Memahami Hakikat Diri

Memahami Hakikat Diri

Setiap manusia menginginkan kehidupan yang baik dan bahagia. Namun tidak semua bisa mendapatkannya, tidak semua manusia merasakan kehidupan yang bahagia. Hal ini disebabkan karena manusia itu sendiri tidak memahami konsep dan hakikat dirinya.

Beberapa filsuf Yunani seperti Plato dan Rene Descrates, pernah menjelaskan manusia itu memiliki dua dimensi yaitu tubuh/badan dan jiwa. Senada dengan itu, Imam Al Ghazali, Al Farabi, dan Ibnu Rusyd juga menyatakan bahwa hakikat manusia terdiri dari unsur jasad (jism) dan jiwa (nafs). Kedua aspek ini membutuhkan “gizi” yang harus dicukupi agar bisa tumbuh dan berkembang secara baik dan sempurna, lahir dan batin yang kemudian puncaknya mendapatkan kebahagiaan yang hakiki.

Secara batin, nafs atau jiwa kita terbagi menjadi beberapa komponen yaitu aql (akal), qalb (hati) dan ruh. Masing-masing dari elemen ini memiliki kebutuhan pokok yang berbeda-beda. Kebutuhan pokok/gizi dari akal adalah ilmu, kebutuhan gizi hati adalah dzikir dan kebutuhan gizi ruh adalah ibadah. Secara lahir, jiwa kita bersemayam dalam jism/badan yang kemudian jasad juga membutuhkan gizinya yaitu makanan pokok 4 sehat 5 sempurna. Kesemua ini perlu seimbang, harmoni agar tumbuh kembang manusia sehat secara lahir dan batin.

Namun kalau kita renungkan, sejatinya elemen batin kita ternyata memiliki intensitas pemenuhan yang jauh lebih tinggi dan utama, daripada badan/jasmani kita. Kita makan dan minum hanya beberapa kali saja dalam sehari, namun konsumsi akal, hati dan ruh kita yang masuk melalui indera terhitung setiap detik. Jika mata kita keliru memilih objek melihat, maka berdampak pada hati. Jika telinga kita mendengar yang tak seharusnya boleh didengar maka akan berefek pada ketenangan jiwa.

Tanpa makanan, kita memang bisa kelaparan dan jasmani kita terganggu tumbuh kembangnya. Bahkan bisa stunting jika terjadi sejak bayi. Namun kita sering lupa bahwa ruhani/batin/mental kita juga bisa mengalami stunting. Wujud stunting mental adalah kegagalan pendewasaan jiwa, keliru dalam berperasaan, kacaunya dalam ibadah dan rancunya dalam berfikir. 

Ya, sebagaimana gizi jasmani/lahir, batin pun perlu gizi. Tanpa ilmu, akal kita akan menjadi bodoh dan salah dalam membuat keputusan. Tanpa dzikir, hati kita akan galau dan resah dalam menjalani kehidupan. Dan tanpa ibadah, ruhani kita akan terombang ambing dan terjebak dalam kekosongan jiwa yang ujungnya memicu kerusakan/berpenyakit. Jika semua elemen batin ini tidak sehat, rusak, berpenyakit, bisa berdampak pada gangguan mental dan menjadi penyakit fisik seperti psikosomatis, kanker, tumor, dll. Bahkan ujungnya bisa bunuh diri.

Dengan memahami konsep diri manusia ini, kita akhirnya memiliki peta jalan. Kita memiliki roadmap kehidupan. Bahkan lebih jauh lagi, kita bisa memahami konsep manusia yang lebih tinggi status derajatnya yaitu manusia yang insan kamil.

Apa itu insan kamil? bagaimana konsep dan cara mewujudkannya? Insya Allah bersambung di artikel ke-2 ya. 🙂

Yuk gabung, kita belajar dan berdaya bersama meraih kesejahteraan hidup. Sehat mental dan finansial. Daftar Gratis! bit.ly/GabungBerdaya

Jangan lupa follow sosmed kami ya 🙂
Tiktok, IG: @agastyagold & @agastyaharjunadhi
Channel telegram t.me/agastyagold

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *